6)Akan tetapi, Petrus berkata,"Emas dan perak tidak ada padaku. Tetapi apa yang ada padaku, itulah yang akan kuberikan kepadamu. Dalam nama Isa Al-Masih, orang Nazaret itu, berjalanlah engkau!" 7)Petrus memegang tangan kanannya lalu menolongnya berdiri. Saat itu juga kaki dan mata kakinya menjadi kuat. 8)Ia melompat tinggi-tinggi, lalu berdiri dan mulai berjalan ke sana ke mari. Kemudian ia masuk ke dalam Bait Allah mengikuti Petrus dan Yahya sambil berjalan dan melompat-lompat serta memuji-muji Allah.

(Kisah Para Rasul 3: 6-8, Kitab Suci Injil terj. 1912)





Senin, 23 April 2012

BANI TIMUR - Warisan Rohani Islam dalam Kitab Taurat dan Injil

(14 x 21) cm; 206 hlm; book paper; 2012

ISBN: 978-602-7653-00-9

Rp 35.000


Jadi, di sinilah dia sekarang, di gurun pasir. Hajar membuka matanya yang berpasir dan membasahi bibirnya yang kering.
Ada apakah itu di dekat sumur? Tampaknya seorang laki-laki sedang berjalan ke arahku. Apakah aku diikuti sejak tadi lalu sekarang ditemukan? Apakah itu salah satu hamba Abram yang akan menyeretku kembali dan memberiku hukuman yang layak kuterima: hukuman mati sebagai seorang hamba yang lari? Atau, apakah itu salah satu dari gembala-gembala setempat yang kejam? Kalau begitu, apa yang dapat kulakukan? Hampir pasti aku akan diperkosa, dipukuli, dan ditinggalkan mati. 

Laki-laki tersebut perlahan-lahan menghampiri, memberi Hajar waktu untuk menerimanya. Tubuhnya setinggi kebanyakan orang pada umumnya, rambutnya yang tak rapi tergerai dari bawah sorbannya yang terikat longgar. Janggut yang tak lebat mengelilingi wajahnya yang berkerut dan kasar, kemungkinan akibat tahun-tahun kehidupan yang keras di gurun. Sementara laki-laki dengan jubah sederhana itu melangkah ke arahnya, Hajar menangkap kebaikan dari sorot matanya yang dalam dan cokelat. Laki-laki itu berhenti sejauh jarak yang sopan, lalu menyapanya dengan suara yang lembut serta penuh keyakinan.

“Damai bagimu,” kata orang asing itu seraya mengangkat tangan kanannya lalu memindahkannya ke dekat jantungnya, menyentuh dadanya selintas sambil menundukkan kepalanya sedikit.
“Damai bagi Anda juga, Tuan,” jawab Hajar.
“Hajar, hamba Sarai, dari manakah engkau?” tanyanya. “Dan ke mana engkau hendak pergi?”
Bagaimana ia mengenaliku? Ketika Hajar mengamati wajah laki-laki yang kasar namun awet muda itu, ia yakin bahwa ia belum pernah bertemu dengannya sebelumnya. Namun, agaknya orang itu tampak hangat dan kehadirannya menyejukkan jiwanya yang tengah bergejolak. Hajar memutuskan untuk berkata jujur.

“Aku lari dari majikanku.”
“Kembalilah pada Sarai dan tunduklah di bawah kuasanya.” Sementara orang itu terus berbicara, perlahan-lahan Hajar menyadari bahwa ia bukanlah manusia biasa; ini adalah Tuhan Abram itu sendiri. “Aku akan membuat engkau menjadi suatu bangsa yang besar. Ya, engkau sedang mengandung dan engkau akan memiliki seorang anak laki-laki. Engkau harus menamainya Ismail, karena Allah telah mendengar doa-doamu.”
Hajar bungkuk hingga ke tanah, dahinya menyentuh pasir yang panas, tangannya terbentang dalam posisi sujud di hadapan Allah. Ismail ... Allah mendengar. Hajar mulai terisak lembut. Allah benar-benar telah mendengar tangisanku!
............
 Hajar mengerahkan sisa-sisa kekuatannya dan menyeretnya ke bawah naungan semak-semak. Kemudian ia merangkak beberapa meter dari situ, sujud di pasir dan mulai menangis meraung-raung. Air matanya menguap begitu cepat di pasir yang kejam itu. Dengan kekuatan terakhirnya yang tak seberapa, ia menengadahkan kepalanya dan berseru kepada Allah.
“Aku tak ingin melihatnya mati!”

Allah mendengar. Sepasang tangan yang kasar mengguncang Hajar untuk bangun dan menariknya untuk bertumpu pada lututnya. Ia memandang pada wajah kekal yang sama yang pernah dilihatnya satu kali, 15 tahun yang lalu. Suara yang sama menghiburnya kembali di tengah-tengah penderitaannya.

“Hajar, ada apa? Jangan takut!” Suara itu penuh dengan belas kasihan dan sarat dengan perasaan. “Allah mendengar tangisan anak itu. Pergilah dan tuntunlah dia, sebab Aku akan menjadikannya sebuah bangsa yang besar.”

Dengan terseok-seok Hajar kembali ke tempat Ismail terbaring, lalu melayangkan pandangannya ke cakrawala. Apakah itu fatamorgana? Bagaimana mungkin ia tak melihatnya tadi? Ismail cukup kuat untuk mengikuti ibunya. Mereka berdua menyeret kaki mereka menuju mata air sebening kristal yang memancar kuat dari pasir, beberapa meter di depan mereka. Mereka jatuh tersungkur di air itu. Setelah memuaskan dahaga, mereka mengangkat wajah serta tangan mereka ke langit, memuji Tuhan Ibrahim, Ishak, dan Ismail. Allah mendengar tangisan mereka!

Minggu, 22 April 2012

BERPIKIR DI TINGKAT BANGSA - Ide-ide Kristiani bagi Isu-isu Bangsa


(145 x 21) cm; 177 hlm; book paper; 2012

ISBN: 978-602-98932-9-8
Rp 42.000


TERBITAN TERBATAS


Inginkah kita melihat Kabar Baik diwartakan lebih luas dan lebih hebat lagi di seluruh Indonesia? Resepnya sederhana: berpikirlah di tingkat bangsa, atau dengan kata lain, milikilah rasa kebangsaan. Resep ini bukan sekadar isapan jempol, tetapi dipungut dari sejarah dan ide Alkitab.

Satu bangsa yang paling luar biasa pertobatannya di abad lalu adalah Korea Selatan, dan sejarah mencatat: “barangkali satu-satunya faktor terpenting yang membuka jalan sehingga kekristenan akhirnya diterima secara luas [di Korea] adalah pengidentikan diri banyak orang Kristen dengan ihwal kebangsaan Korea selama masa pendudukan Jepang (1905–1945).”3 Dr. Anne Ruck, penulis buku Sejarah Gereja Asia, melaporkan: “Para pendeta asing ingin supaya gereja [Korea] tidak campur tangan dalam urusan politik, dengan alasan Kerajaan Allah bukan kerajaan duniawi. Tetapi orang Kristen Korea berpandangan lain. Gereja menjalin hubungan dengan nasionalisme Korea dan mendukung gerakan menentang kekuasaan Jepang. Gereja mempertahankan kebaktian dalam bahasa Korea dan tidak memakai bahasa Jepang. Liturgi berbahasa Korea menjadi lambang cinta kepada tanah air Korea.”


Marilah kita cermati fakta tersebut. Kalau dulu orang Korea menuruti keinginan para pendeta/misionaris asing yang jelas penggemar fanatik kekristenan individual/universal (sampai sekarang pun hampir semua mereka seperti itu!), hari ini kita tidak akan pernah mengenal Korea Selatan sebagai bangsa dengan pengaruh Kristen yang kuat dan mengesankan di muka bumi. Gereja dan pekabaran Injil di Korea tidak akan terpacu perkembangannya. Syukurlah, “orang Kristen Korea berpandangan lain”!  Menurut saya, mereka ini telah menjiwai pemikiran “tingkat bangsa” Kristen atau nasionalisme Kristen, seperti yang dianut Paulus: “Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani” (Rom. 9:3, tekanan oleh saya). Paulus adalah rasul bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi, tetapi ia tak pernah sekali pun mengucapkan perkataan dahsyat macam itu bagi salah satu bangsa bukan Yahudi. Hanya untuk bangsanya!


Dari sini maklumlah kita bahwa cinta bangsa akan memacu perluasan Kerajaan Allah dalam bangsa. Itu resep mujarab dan modal yang amat sangat besar.