6)Akan tetapi, Petrus berkata,"Emas dan perak tidak ada padaku. Tetapi apa yang ada padaku, itulah yang akan kuberikan kepadamu. Dalam nama Isa Al-Masih, orang Nazaret itu, berjalanlah engkau!" 7)Petrus memegang tangan kanannya lalu menolongnya berdiri. Saat itu juga kaki dan mata kakinya menjadi kuat. 8)Ia melompat tinggi-tinggi, lalu berdiri dan mulai berjalan ke sana ke mari. Kemudian ia masuk ke dalam Bait Allah mengikuti Petrus dan Yahya sambil berjalan dan melompat-lompat serta memuji-muji Allah.

(Kisah Para Rasul 3: 6-8, Kitab Suci Injil terj. 1912)





Jumat, 24 Januari 2014

JALAN SALIB




(14 x 21) cm; 111  hlm; book paper; 2013

ISBN: 978-602-7653-08-5
 
 
Terbitan khusus, kerja sama dengan Akademi Lutheran Indonesia (ALI) Pematangsiantar 



Cinta manusia, di sisi lain, hanya bisa ada melalui hal yang menyenangkan Allah karena manusia pasif sama sekali menyangkut cinta dan kebenaran Allah. Terlepas dari Allah, manusia tidak bisa mencintai dengan berkorban. Dia hanya bisa menginginkan hal-hal untuk kemuliaannya sendiri, namun dengan Kristus dalam diri kita, kita bisa mengasihi sesama manusia dan Allah dalam kebenaran yang menyenangkan Dia.

Inilah Jalan Salib. Jalan menuju kebenaran Allah. Jalan menuju kehidupan kekal di surga. Jalan menuju kedamaian kekal, baik di kehidupan sekarang maupun di dunia yang akan datang. Akhirnya, Jalan Salib itulah jawaban terhadap apa yang Yesus maksudkan saat berkata:

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.”
— Lukas 9:23-24


Tidak ada komentar:

Posting Komentar