6)Akan tetapi, Petrus berkata,"Emas dan perak tidak ada padaku. Tetapi apa yang ada padaku, itulah yang akan kuberikan kepadamu. Dalam nama Isa Al-Masih, orang Nazaret itu, berjalanlah engkau!" 7)Petrus memegang tangan kanannya lalu menolongnya berdiri. Saat itu juga kaki dan mata kakinya menjadi kuat. 8)Ia melompat tinggi-tinggi, lalu berdiri dan mulai berjalan ke sana ke mari. Kemudian ia masuk ke dalam Bait Allah mengikuti Petrus dan Yahya sambil berjalan dan melompat-lompat serta memuji-muji Allah.

(Kisah Para Rasul 3: 6-8, Kitab Suci Injil terj. 1912)





Senin, 08 Juni 2015

PENGANTAR KITAB - KITAB PUISI DAN NABI - NABI BESAR


(15 x 21) cm; 153  hlm; book paper; 2015
ISBN: 978-602-7653-13-9
 
Rp 40.000
 
 
Benson mendefinisikan puisi sebagai “Bentuk sastra yang menggubah pikiran, perasaan, atau tindakan yang elok dalam bahasa yang berirama dan metris.”[1] Puisi, khususnya dalam bentuk nyanyian atau nyanyian pujian, menduduki tempat penting dalam kesusastraan Yahudi. Bangsa Yahudi jelas gemar sekali akan musik, dan terkenal akan nyanyian-nyanyian mereka.[2] Dapat dikatakan bahwa hampir setiap aktifitas atau kegiatan orang Yahudi disertai dengan gubahan puisi. Misalnya dapat kita lihat saat mereka melakukan aktifitas di sumur (Bil.21:17,18), saat panen (Yes. 9:2; 16:10,11), pesta perkawinan (Yer. 7:34), saat perkabungan seperti yang nyata ketika Daud menangisi kematian Saul, Yonatan dan Abner (2 Sam. 1:19-27; 3:33-34). Demikianlah puisi memainkan peranan penting dalam kehidupan bangsa Yahudi, karena itu, tidak heran bila Allah memakai saluran ini untuk menyatakan kehendak-Nya pula kepada manusia. Dengan itu, maka terbentuklah kitab-kitab puisi sebagaimana yang kita kenal saat ini.  

Walaupun puisi merupakan suatu ungkapan perasaan manusia, bukan berarti ke-5 kitab yang kita kelompokkan ke dalam kategori ini (Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah dan Kidung Agung) hanyalah hasil dari pikiran dan khayalan manusia. Untuk itu Baxter mengemukakan “Kitab-kitab ini menggambarkan pengalaman manusia, membentangkan kenyataan-kenyataan yang besar. Dan khususnya melukiskan pengalaman orang-orang yang taat beribadat selama hidupnya. Tambahan pula, segala pengalaman itu diceritakan atas kehendak Tuhan, agar yang mengalaminya dapat dijadikan teladan oleh orang-orang yang beribadat di kemudian hari. Penulis diilhami Roh Tuhan untuk menulis pengalaman-pengalaman itu. Dengan demikian, kitab puisi ini merupakan khazanah kebenaran rohani yang tiada ternilai harganya.”[3]


[1]Clarence H. Benson, Pengantar Perjanjian Lama Puisi dan Nubuat, (Yogyakarta: Gandum Mas, 1983), 4.

[2]Puisi oleh C.F. Burney, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1998), 280.

[3]J. Sidlow Baxter, Menggali Isi Alkitab Ayub s/d Maleakhi (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1993), 3.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar